Dgn sangat cepat si hidung belang memercikkan air di botol itu ke wajah dan tubuh Juminten. Bokeb Tangannya memegang dan meremas lenganku. Kenyal dan hangat):
“ya sudah Cah Sara, aku kasihan kepadamu” kataku kebapakan:
“aku akan mencoba menolongmu, dgn sepenuh ilmuku. Aku kemudian menunduk Sara ke bawah, mulutku berkomat-kamit (sebenarnya aku tidak membaca mantera, dapat mengitung satu tambah satu dua, dua tambah dua empat dan seterusnya dgn cepat). Aku dapat menolongmu, namun itu sangat berbahaya. Suaranya tersendat-sendat:
“aduh Kakek, nyuwun sewu, Kakek, saya lingsem (malu) banget..” Wah, ini dia.




















